Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

PERSIMPANGAN HIDUP

Bagi mukmin sejati, hidup adalah jalan menuju keabadian akhirat. Maka, berjuang dan bekerja keras adalah harga yang harus dibayarkan guna mencapainya. Namun, ketahuilah, sesungguhnya di setiap tempat dan waktu akan selalu ada persimpangan-persimpangan hidup yang memaksa kita untuk menentukan pilihan: terus berada pada jalan menuju keabadian itu atau berbelok mencari jalan pintas. Ya, jalan pintas yang mungkin lebih mulus, lebih cepat, lebih nikmat dan lebih menggiurkan namun sebenarnya cuma fatamorgana. Haruskah kita korbankan hidup yang begitu berharga guna mengejar fatamorgana?



Seorang pegawai rendahan mungkin dihadapkan pada persimpangan: bergegas datang di pagi hari karena berpikir bekerja adalah amanah atau bermalas-malas saja toh gaji tidak seberapa. Seorang pedagang mungkin dihadapkan pada persimpangan: berlaku jujur dalam takaran atau mencurangi sedikit untuk memperbesar keuntungan. Seorang istri mungkin dihadapkan pada persimpangan: berterusterang dalam menyisihkan uang belanja untuk ibunya atau diam-diam saja. Seorang politikus mungkin dihadapkan pada

Baca selengkapnya »

by Mas Javas · 0

NAK...

Nak, jauh sebelum kau hadir dalam kehidupan ayah dan ibu, kami senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholihah, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dalam menegakkan kalimat Allah.



Banyak rencana yang kami rancang, agar kelak bila kau hadir, kami sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikmu dengan didikan yang sesuai dengan Islam, tuntunan kita seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw kepada kita. Ayah dan Ibu ingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada kami seorang putri, maka dia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah putri Rasulullah, dan bila Allah mengamanahkan seorang putra, maka dia akan seperti Ali.



Setelah tanda kehadiranmu mulai tampak, Ibu sering mual, muntah-muntah, sakit kepala dan sering mau pingsan, Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, kami menjagamu sepenuh hati, serta senantiasa berharap, kelak kau lahir sebagai anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan.



Sejak dalam rahim, kami mencoba menanamkan kalimat-kalimat tauhid kepadamu dan berupaya mengenalkanmu kepada Sang Pencipta, dengan bacaan ayat-ayat suci-Nya dan senandung-senandung shalawat Nabi.



Saat kau akan lahir, Ibu merasakan sakit yang amat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibu tidak mengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranmu lebih Ibu rindukan dibanding dengan rasa sakit yang Ibu rasakan. Ibu tak henti-hentinya berdo’a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah. Ayahpun tidak tidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranmu, menemani dan menguatkan Ibu, agar sanggup melahirkanmu dengan sempurna. Bacaan dzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranmu.



Begitu kau lahir, sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja. Setelah tangismu terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibu dan Ayah. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karena menahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranmu. Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkan bacaan adzan dan iqomat ditelingamu, agar kalimat yang pertama kali kau dengar adalah kalimat Tauhid yang harus kau yakini dan kau taati selama hidupmu.



Saat pertama kali kau isap air susu Ibu, Ibu merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibu ingin memberikan semuanya kepadamu, agar kau segera tumbuh besar dan sehat. Ibu berupaya supaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanmu. Ibu berupaya untuk selalu dekat denganmu, dan selalu mengajakmu kemanapun Ibu pergi, supaya kapanpun kau lapar, Ibu selalu siaga memberikan air surgawi karunia Ilahi itu kepadamu.



Ibu berusaha untuk selalu siap siaga menjagamu, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibu akan terjaga bila kau tiba-tiba menangis karena popokmu basah atau karena kau lapar. Saat sedang makan dan kau buang air besar, Ibu dengan rela menghentikan makan dan mengganti popokmu dulu. Dan semuanya, Ibu lakukan dengan senang hati, tanpa rasa risih dan jijik.



Tatkala kau mulai belajar sholat, dan usai sholat kau lantunkan do’a untuk orang tua, walau dengan bacaan yang masih belum sempurna, bercucur air mata ibu karena kau telah mampu melafalkan do’a itu. Timbul harapan dihati yang paling dalam, kelak hingga ketika Ibu dan Ayah tiada, kau tetap melantunkan do’a itu, karena do’amu akan memberikan kepada Ibu dan Ayah pahala yang tak henti-hentinya di yaumil-akhir. Kaulah asset masa depan bagi kami. Kau akan mampu menolong kami di yaumil-akhir nanti, bila kau menjadi anak yang sholih.



Saat kau memasuki usia sekolah, Kami carikan sekolah yang baik untukmu. Sekolah yang memiliki visi pendidikan seperti yang Ibu dan Ayah inginkan. Ayah mengantarmu ke sekolah setiap pagi dan Ibu mendampingimu selalu hingga kau berani ditinggal di sekolah sendiri. Keperluan sekolahmu selalu kami upayakan, walau kadang harus dengan susah payah, agar kau bisa memperoleh pendidikan yang baik dan layak untuk kehidupanmu dimasa yang akan datang. Kami senantiasa berupaya membimbingmu untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besar nanti kau mampu melayani dirimu sendiri.



Maafkan Ibu dan Ayah bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahimu ketika kau membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibu dan Ayah tak ingin memarahimu, namun kamipun sadar bahwa kau harus tahu dan harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saat kau dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, kau bisa memilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil.



Maafkan pula bila Ibu dan Ayah selalu membatasi tontonan dan bacaanmu, karena saat inii sangat banyak media yang dapat merusak pendidikan yang sudah kami terapkan kepadamu. Itu semua kami lakukan, agar kau terpelihara dari hal-hal negatif yang akan mendangkalkan akhlaq dan perilakumu.



Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin ..





-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(Diambil dari tulisan Ummu Sofi )


by Mas Javas · 0

CANGKIR YANG CANTIK

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik.

"Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda
berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi
sirna tatkala kulihat diriku.

Seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, janganlah kecil hati, karena Di a sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda.



---------------------------------------------------------------------------------------------------------
(Kiriman dari sdr. Oki)

Tandai Tidak RelevanLaporkanHapus Kiriman




by Mas Javas · 0

Berjuang Untuk Berserah


“Kataballohu maqoodiirol kholaaiqo qobla ayyakhluqossamaawaati
wal ardho bi khomsiina alfa sanatin. (Allah telah menulis qodar-qodar nya makhluk limapuluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi – H.R. Muslim dalam Kitabul Qodar)”


***

Sore itu tidak sama seperti sore yang lain. Di dalam benak ku, semua mendadak menjadi gelap. “Masya Allah”, lafadz ku dalam hati dengan bibir bergerak. Aku kaget luar biasa. Kabar yang kudapat dari e-mail,dari sabahat yang sudah seperti adik ku sendiri Dawud Abd, benar-benar membuat sekujur tubuhku lemas seperti tak bisa di gerakan. Achsan Indriadi, sahabatku yang baik divonis dokter terkena penyakit yang sekarang paling ditakuti, H5N1 alias flu burung. Penyakit yang mematikan. “Ya Allah”, kami pasarah padamu. Aku terduduk lemas, semua mendadak gelap dalam benak ku. “Kenapa harus Achsan? Kenapa tidak yang lain nya? Kenapa bukan koruptor? Kenapa bukan teroris? Kenapa..kenapa?? kenapa???.” Kalimat Tanya itu menyeruak seperti tak berhenti dan tidak menemukan tanda titik untuk menghentikan nya. Zikir dan do’a selepas sholat ashar, semakin kurasa kuat sekali. Bahkan aku merasakan do’a-do’a yang kulafaldzkan sangat bertenaga. aku berusaha berdamai dengan jiwaku (Allah, pertolonganmu pasti dekat)

Achsan, adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta di bilangan Jakarta Utara. Dalam setahun ini (2009), Achsan, seperti ceritanya padaku, merasa sedang dicoba oleh Allah. Ia juga bilang sedang merasakan manisnya keimanan, sampai dia merasa sekarat. Lelaki kelahiran 15 November 1973 itu berkali-kali bercerita tentang mimpi-mimpi yang dialaminya ketika dia tak sadarkan diri, akibat panas yang tinggi.

Di tahun 2009 ini, sudah 3 kali Achsan masuk rumah sakit. di bulan Februari ia terkena lumpuh kaki kanan akibat cedera tulang punggung. Bulan April ia kembali masuk rumah sakit akibat HNP (syaraf tulang punggung terjepit) yang mempengaruhi fungsi organ dalam.

***

Aku kembali tertegun tak bisa berkata-kata. Email dari Dawud, kembali kubaca dengan dada bergetar hebat. Achsan sakit lagi, kali ini tak main-main. Flu Babi. Aku diam, berusaha untuk kuat melanjutkan membaca e-mail Dawud dengan sangat hati-hati. Pikiran ku melayang jauh, membayangkan betapa sedih nya hati anak-anak Achsan. Amorita (10 th), Achmar (3,5 th), serta Aimar (1,5 th), juga istrinya Nina Marlina. Meski kutahu, istri dan ketiga anak Achsan, bukanlah orang sembarangan, mereka sangat dekat dengan kehidupan Agama serta sangat penyabar. Bathinku berkata sendiri, tetap tak mudah menghadapi ini semua.

Kabar terakhir, di bulan Juli Achsan masuk rumah sakit lagi, tapi kali ini sangat mengejutkan. Ia sakit akibat burung dan Flu babi. Otomatis sejak bulan Januari hingga hari ini Achsan tidak dapat bekerja dan mencari nafkah dan dan meelakukan seabrek aktivitas positif lainnya

Dalam catatan Achsan yang sempat ku baca, di Bulan Juni yang lalau, ia memang sempat pergi tugas ke luar negeri, tepatnya ke Pakistan, namun hingga akhir bulan Juni jsepulang dari Luar Negeri, Achsan tak merasa ada sesuatu perubahan dalam tubuhnya. Semua berjalan normal dan biasa saja. Ia pun tidak mengalami sakit pernafasan. Hari hari berjalan normal dan ia beraktivitas dan bekerja seperti biasa

Pada tanggal 9 dan 10 Juli, Achsan bahkan masih sempat pergi mengisi liburan bersama anak dan istrinya, ke beberapa tempat pedesaan di Depok dan Bogor, dan kerumah orang tua nya. Secara beruntun setelah pulangdari liburan mereka sekeluarga sakit pilek. Achsan sendiri merasakan masuk angin yang berat. Karenamerasa dirinya kecapean, ia pun melakukan pijat refleksi, di rumah seorang teman nya Taufik Wibisono. Namun flu yang dirasakan Achsan tak kunjung hilang. Selama 3 hari Achsan minum obat flu tetapi tidak juga menunjukan kondisi yang membaik. Achsan memutuskan memeriksakan diri di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Saat itu suhu tubuh nya 41 dcelcius, dan selalu muntah. Komdisi Achsan yang sangat tidak memungkinkah akibat muntah berat, dokter menyarakan Achsan dirawat di rumah sakit itu.

***

Hingga hari kelima Achsan dirumah sakit, tidak ada perubahan yang berarti, bahkan semakin parah. Dokter pun sedikit panik, karena Achsan sudah demam tinggi (hingga 41,5 dcelcius) sudah 8 hari. Mulai hari kedelapan demam tinggi Achsan disertai batuk dengan mengeluarkan darah segar, praktis ejak itu pernapasan nya mulai terganggu, dan Achsan pun bernafas dibantu dibantu oleh oksigen.

Dokter berusaha keras membantu Achsan untuk sembuh dari penyakitnya. Beberapa obat diinjeksi masuk ke dalam tubuhnya, malah mengakibatkan lidah dan tenggorokan Achsan terasa terbakar (hingga saat ini masih belum bisa merasa dengan baik). Lambung Achsan pun sudah tidak bisa menerima makanan dan minuman, selalu dimuntahkan. Puncaknya, sample dahak Achsan langsung di kirim ke Depkes. Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan Laboratorium keluar. Hasilnya mengejutkan semua anggota keluarga. Achsan terkena H5N1, alias flu burung. Torax nya pun s dirontgen ulang secara lebih detail, dan hasilnya Achsan pneumonia berat dan sebagian paru-paru nya sudah terisi air.

“Allah, engakau begitu dekat”, gumamku panjang. Kembali aku mengingat Achsan yang sedang berjuang sekuat tenaga dalam do’a nya untuk sembuh

***

Pada hari yang sama Achsan dirujuk ke RS persahabatan (sentral penderita flu burung), tetapi karena ICU nya penuh, Achsan dirujuk ke ICU RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Saat dipindahakan Achsan merasa terhina sekali, “Saya merasa terhina, saya dipindahkan oleh staf kesehatan perpakaian isolasi komplet seperti di film Hollywood”, tuturt Achsan padaku. Jalan, gang, elevator semuanya dibersihkan dari pengunjung saat Achsan lewat. Semua petugas keamanan menggunakan masker. Semua mendadak horror. “ Kok , saya seperti punya penyakit nista”, tutur achsan saat itu, seperti diceritakan nya padaku. Achsan tiba di ICU penderitaan tubuh nya pun dirasakan nya bertambah. Infus saya bercabang 3, plus selang injeksi, ia rasakan semakin membuat penderitaan nya semakin bertambah. Achsan juga merasakan kerongkongan semakin tak enak dirasakan nya, karena dikasih selang. Bukan itu saja, Achsan semakin merasa tak nyaman, ketika kateter dipasang untuk memudahkan nya buang air kecil. Achsan sempat menangis, ketika merasa tak kuat untuk berdiri dan buang air besar. Pup (BAB) pun dilakukan dengan menggunakan pampers. “Masya Allah, betapa tidak enak dan nyaman nya”, pekik Achsan

Saat-saat bernafas dirasanya tak nyaman. Achsan bernafas dengan masker oksigen (ia menolak intubasi), disamping itu juga dipasang alat rekam jantung dan saturasi.

( diruangan kaca kecil yang sangat berisik, dengan suara peralatan medic, dalam kondisi lelah namun masih sadar, Achsan melihat ruang-ruang ICU diisi oleh beberapa pasien yang memang sudah sekarat, kebanyakan kondisinya tidak sadar)

Keesokan harinya, tepatnya hari jum’at yang Achsan lupa tanggal nya ada hal yang membuat Achsan bertambah lemas. Achsan menjalani pemeriksaan loboratoriom ke dua. Hasil lab hari itu, ternyata menunjukan hasil yang mengerikan. Achsan bukan saja positif positif H5N1 tapi juga H1N1 alias flu babi (yang konon berasal dari Meksiko).


Seperti diketahui, flu burung dan flu babi adalah penyakit baru yang cukup berbahaya. Penyakit ini mudah sekali menular hanya dengan kontak fisik. Bahkan jika terlambat ditangani, penyakit ini juga bisa memakan korban jiwa. Dengan kondisi semacam ini,

….siapapun tak bisa menolak qodar Allah………

Di ICU Achsan masih dalam keadaan lemah. Tekanan darah sistole nya selalu dibawah 100, dan detak jantung lambat (hanya 15 hingga 25 denyut per menit), sementara oksigen darah Achsan hanya 50% dari normal. Achsan lebih sering tertidur dibanding terbangun, bahkan secara rutin perawat membangunkan Achsan agar tetap tersadar dan tidak pingsan.

Achsan berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan. Dalam panas tinggi dan menderita penyakit mengerikan dua sekaligus, ia masih tetap berzikir, berdo’a dan pasrah pada Allah. Kepasrahan Achsan, mengingatkan saya pada sebuah kisah yang berjudul Struggling to Surrender – berjuang untuk berserah. Sungguh Achsan sedang berjuang dan berserah diri pada Allah

“Saya merasakan manis nya keimanan”, tutur Achsan padaku. Saat ia dirumah sakit, saudara seta teman-teman nya sealu setia menemani. Ada saudaranya yang sudah menyiapkan pasir untuk Tayamum dalam plastic kresek hitam, untuk dia berwudhu

Ia mengaku, setiap perawat selalu bertanya ini apa? “ ini obat special”, ujar nya tanpa mau memperpanjang obrolan, karena ia merasa lelah. Setiap waktu sholat ada saja orang yang mengingatkanya.

Syukurnya, istri Achsan membekali sekali Quran dan buku doa. Meski sakit tak terperi, Achsan berusaha membaca Al-Qur’an yang selalu berada tak jauh dari tangan nya

Di ruangan sunyi dan terisolir itu, Achsan sangat terasa bisikan bisikan syetan untuk tidak sabar, untuk merasa berat melakukan ibadah sholat, sering dibuat mimpi-mimpi yang melemahkan keimanan, untuk menyerah dengan keadaan dan pasrah pada perasaan lemah. sesekali bisikan untuk putus asa, dan yang parah adalah prasangka buruk pada Allah

innal’abda idza sabaqot lahu minnallooh manzilatun lam yablugh haa bi’amalihi ibtalaahulloh fii jasadihi au fii maalihi au fii waladihi summa shobbaro’alaa dzalik summattafaqoo hattayub lighohul manzilatallatii sabaqot lahu minnalloohi ta’alaa – sesungguhnya seorang hamba Allah ketika telah mendahului padanya (qodar) drajat dari Allah yang dia tidak bisa mencapai dengan amalan nya, maka Allah member cobaan padanya, di dalam jasadnya atau hartanya atau anak nya, kemudian Allah memberi lagi kesabaran pada nya dalam menghadapi cobaan tersebut sehingga Allah menyampaikan padanya derajat yang telah di qodar untuknya disisi Allah ta’ala. (HR. Abudawud)

Tapi semua itu, bisa dijalani Achsan dengan baik. Pada saat inilah nasehat, ajakan berdoa, peringatan untuk sholat bisa dengan segera menghilangkan pengaruh-pengaruh syetan tadi. Semangat itu didapatkan Achsan tiap hari.

Semangat untuk sembuh dan berharap pertolongan Allah, semakin kuat dirasakan Achsan ketika suatu siap dia melihat pasien baru masuk ke ruang depan dimana Achsan dirawat

“di ruangan yang ada di depan saya datang seorang Bapak berusia atas 50 tahun. Ia datang dalam keadaan lebih bugar dari saya, dan dengan kasus yang sama dengan saya (H5N1 & H1N1), hanya bertahan sehari dan besoknya meninggal. di ruang sebelah, ada bocah usia 5 tahun, Masuk dengan Pneumonia seperti saya, dan saat 4 hari saya di ICU, bocah tersebut meninggal. Rasanya dekat sekali saya dengan maut” ungkap Achsan.

Tapi sebaliknya, melihat kondisi itu malah membuat ia tambah semangat untuk sembuh. Tidak ada perasaan takut atau getir pada saat itu, tapi yang ia rasakan adalah rasa penyesalan atas perilaku saya selama ini, yang kurang mengepolkan ibadah

(dalam hati Achsan ingat suatu dalil, setiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan mati itu datangnya sewaktu-waktu)

Achsan sempat tak sadarkan diri. Dalam kondisi tak sadar itu, ia bermipi dan mengingat dengan jelas mimpinya. Dalam mimpi itu tiba-tiba ada sosok yang menunjukan pilihan-pilihan pada Achsan. Pilihan baik atau buruk, pilihan sukses atau gagal, pilihan hidup atau mati. Semua pilihan yang baik, diwakili dengan arah kanan, pilihan yang buruk di wakili dengan arah kiri

Achsan pun memilih arah kanan. Dalam perjalanan nya kea rah kanan, ternyata Achsan di ajak kesebuah gunung, dimana gunung itu dikelilingi oleh jurang yang sangat dalam. Dalam mimpi itu ia bertemu banyak orang yang sedang kehausan. Digunung itu tak ada air. Yang tak sabar memilih lompat ke dalam jurang yang dalam, dan mati tak kembali

Achsan tetap bertahan dalam kehausan dan ia tak mau masuk dalam jurang itu. Saat terjaga, panas badan nya menurut. Hasil pemeriksaan terakhir, Achsan sembuh dari kedua penyakit yang mengerikan itu

Achsan merasakan hadir sebagai ksatria baru dalam hidupnya setelah sembuh. Ksatria yang kusebut disini bukanlah ksatria bertopeng atau ksatria dalam pewayangan. Melainkan ksatria dalam diri, berjuang, beribadah pada Allah

Kata Nabi Ibrahim: "Wa idzaa maridltu fa huwa yasyfiin" - dan ketika sakit aku, maka Dia yang menyembuhkan.

Menuntaskan tulisan ini, aku teringat sebuah puisi

Ke mana pun kau menoleh
Kita bakal bertemu
Karena kau hanya daging

Kemanapun kau menoleh
Kita bakal bertemu
Karena kau hanya tulang
bakal merapuh dalam sendiku

kalimat-kalimat dahsyat dalam sajak Gus tf, yang bertajuk “Bakal”, tahhun 2001 itu, seperti luruh dalam jiwaku.

Achsan aku belajar dari kisahmu. Tetap semangat dan hebat, saudaraku

Bumi Allah, 11 Agustus 2009



by Mas Javas · 0

Survival of the Fittest

Anda kurang tampan? Kurang tinggi? Kerempeng? Kegemukan? Bodo matematika? Kabar bagus buat Anda. Semua itu tidak terlalu penting di masa sekarang. Pilihan bentuk pekerjaan semakin banyak.






Tukul Arowana beruntung memiliki wajah tidak tampan (itu menurut dia sendiri loh). Karena justru wajahnya itulah daya tarik kelucuannya. Dalam sejarah kelucuan, jarang komedian yang berwajah setampan Tom Cruise. Ketampanan tidak memancing tawa. Ketidaktampanan bisa menarik tawa. Tidak tampan jadi peluang. Kata Tukul, “Wajah desa, rejeki kota.”

Mamalia beruntung karena fisiknya yang kecil, karena itu makannya juga sedikit, membuatnya bertahan dari kepunahan masa dinosaurus. Orang Indonesia beruntung karena kulitnya yang coklat membuat resiko kanker kulit menurun walau terpapar banyak sinar matahari katulistiwa.

Sudahkah Anda tahu bahwa keheningan bisa dijual? Sekarang ada headphone yang digunakan untuk meredam suara. Pembelinya adalah mereka yang ingin tidur di perjalanan. Naik mobil bising. Naik pesawat pun bising. Maka keheningan pun menjadi mahal harganya. Lalu ada yang menjual penutup telinga, ya headphone khusus untuk meredam suara itulah. Pasang di telinga, kesunyian pun menemani Anda untuk bisa tidur nyenyak. Yang ‘fit’ adalah yang tidak ada bunyinya.

Kita selalu ingin menjadi yang ter dalam segala bidang. Tertampan, tertinggi, terpandai, terkuat, terkaya, dan lainnya. Padahal Tuhan menciptakan dunia ini dengan unik. Setiap kondisi ada kesempatan yang paling pas dengannya. Apakah Anda ingin jadi Presiden? Saya kok membayangkan tugas Presiden itu penuh protokoler yang menjemukan. Tapi pasti ada (dan banyak kayaknya) yang ingin jadi Presiden. Sebaliknya, banyak pula yang tidak mau jadi Presiden. Untuk bahagia pun ternyata perlu kegiatan yang ‘fit’ dengan jati diri kita.

Survival of the fittest

Adalah yang paling ‘fit’ yang akan bertahan. Arti ‘fit’ di sini adalah yang paling sesuai, bukan yang paling kuat. Anda mungkin bodoh matematika, tapi kalau tugas sebagai diplomat maka hal tersebut tidak relevan. Anda mungkin pendek, tapi kalau pekerjaan Anda adalah manajer produksi mungkin hal itu juga tidak relevan.

Kita beruntung sebagai manusia. Kita bisa memilih tempat kita untuk tinggal dan berjuang. Kalau Anda kurang pintar dalam akademis, tidak perlu ngotot jadi dosen. Mungkin Anda lebih cocok dalam lingkungan seniman, atau pebisnis. Kita bisa memilih tempat dimana kita bisa menjadi paling ‘fit’ dengan kondisi tertentu. Di situlah kita bisa unggul. Saya memegang dengan yakin konsep ‘survival of the fittest’ ini. Ada 3 kiat yang bisa Anda coba. Saya telah menggunakannya.

Kiat pertama adalah dengan menjadi ‘orang picak di kalangan orang buta’. Kita pasti mempunyai kemampuan yang unik dibanding teman lain, dan keunikan kita tersebut cocok dengan suatu kebutuhan kerja tertentu. Misalnya. Dalam kelompok tim insinyur yang jago teknologi, ternyata hanya kita yang hobi baca buku pemasaran. Jadilah kita punya ilmu yang mencampurkan teknologi dengan bisnis. Sebaliknya di kalangan pemasaran, mungkin kita yang paling ngerti teknologi. Inilah si picak di kalangan si buta.

Kiat ke dua adalah ‘bagai ikan dalam air‘, yaitu mencari pekerjaan dimana kekuatan kita menjadi menonjol dan kelemahan kita menjadi tidak relevan. Kalau kita pemalu untuk tampil, maka pekerjaan sebagai pengrajin (misalnya seniman, teknisi, auditor, dan sebagainya yang mengandalkan kerja mandiri) akan cocok, karena tidak memerlukan tampil ke banyak orang. Kalau kita pemalu, tak perlu mimpi menjadi vokalis band, sebaliknya fokus menjadi penulis lagu. Di setiap pekerjaan akan ada kondisi yang membuat kita paling fit dengannya.

Kiat ke tiga adalah ‘menjadi landak‘, yaitu mendalami keahlian hingga kita menjadi yang paling ahli di bidang itu. Jangan membayangkan keahlian yang canggih-canggih. Setiap hal ada ilmunya. Saya pernah melihat di televisi tentang seorang yang ahli membuat bubuk tinta dari arang pohon cemara. Hanya untuk mendalami seni membuat tinta diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. Inilah spesialis yang disebut Peter Drucker sebagai ‘knowledge worker’. Di masa sekarang ini sebenarnya setiap orang adalah manajer dirinya sendiri. Anda bisa sewaktu-waktu dipecat. Namun jika Anda punya keahlian tinggi, peluang masih akan terbuka. Lalu mengapa banyak orang yang nganggur? Karena keahliannya cuma rata-rata. Makanya tidak dicari orang. Setiap hari orang masih mencari teknisi bengkel yang ahli, pemasar yang ahli, desainer yang ahli, tukang sate yang ahli, penjual cendol yang ahli. Setiap hari orang masih mencari. Sayangnya pasar tenaga kerja dipenuhi orang yang rata-rata, tidak menonjol, tidak ahli, tidak mastery.

Tiga kiat tersebut : si picak di kalangan orang buta, bagai ikan dalam air, dan menjadi landak, adalah kiat yang senantiasa relevan untuk menjadi ‘the fittest’.

by Mas Javas · 0

HELEN KELLER (Sebuah kisah nyata tentang suatu proses pembentukan karakter)

Kisah nyata tentang suatu proses pembentukan karakter sebuah nama besar HELEN KELLER (1880-1968). Seorang wanita BIASA menjadi LUAR BIASA, buta dan tuli di uasi 19 bulan. Namun berkat bentuan dan kesungguhan keluarga juga guru yang membimbingnya yang juga buta (setelah melewati serangkaian operasi akhirnya dapat melihat secara terbatas) . Luar biasa Helen Keller tumbuh dengan memilik karakter yang kuat kemudian pada tahun 1904 juga menjadi manusia buta dan tuli yang pertama lulus cum laude dari Radcliffe College.
Ungkapan dari Helen Keller " Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved"
Lewat perjuangan panjang dan ketekunannya akhirnya Helen Keller dijadikan pahlawan besar dalam sejarah di Amerika yang mendapat berbagai penghargaan di tingkat nasional maupun internasional atas prestasi dan pengabdiannya.
Mudah-mudahan Helen Keller menjadi inspirasi buat kita semua untuk menjadi manusia berkarakter kuat.Membangun karakter bagaikan mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa yang dapat membedakan individu dengan individu lainnya. Proses yang memerlukan suatu kedisiplinan yang tinggi, refleksi yang dalam dan tindakan nyata yang berupa sikap, sikap ini yang akan memebentuk kebiasaan, kebiasaan akan membentuk watak dan tabiat dalam diri.
Cuplikan Helen Keller bisa dilihat di You Tube.

by Mas Javas · 0

CIRI-CIRI PEMIMPIN YANG BERPRINSIP




1.Keteladan.
Dapat menjadi teladan sesuai dengan visi & misi organisasi yang
dipimpin.
2.Terus Belajar
Mau belajar dari hidupnya, belajar dari pengalaman, mendengarkan orang lain, dan meningkatkan ketrampilan dan minat baru.
3.Motivator
Mampu memberikan motivasi pada diri maupun orang lain.
4.Berorientasi pada pelayanan
Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana mereka bisa menolong orang lain, melayani orang lain, mau menerima tanggung jawab moral dsb.
5.Memancarkan energi positif
Secara fisik memiliki air muka yang menyenangkan, optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, mempercayai. Memancarkan energi yang positif yang dapat mempengaruhi orang-orang sekitarnya. Dengan energi itu selalu tampil sebagai penengah sehingga bila terjadi energi negatif bisa merubahnya menjadi lebih positif.
6.Mempercayai orang lain.
Yakin bahwa orang lain memiliki potensi, bila tampak kelemahan-kelemahan orang lain, mereka tidak berespon secara berlebihan. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain.
7.Hidup seimbang
Sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakan, membuat diri seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, bijak, jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan dan berdampingan dengan kegagalan.
8.Mau bersinergi.
Penggerak perubahan, setiap situasi yang dimasuki selalu diupayakan menjadi lebih baik. Selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif.
Dalam bekerja selalu menawarkan pemecahan masalah yang bersinergi, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.
9.Berlatih untuk memperbaharui diri.
Secara teratur melatih untuk mengembangkan diri, memperbaharui diri menjadi pribadi yang sehat dan kuat secara fisik, mental, emosi dan spiritual.
10. Fasilitator.
Mampu memfasilitasi untuk terjadinya perubahan
11. Pengemban Amanah
Dapat mengemban amanah dari Allah disertai tanggung jawab yang besar.
12. Berpegang pada keimanan
Waktu mengendalikan segala urusannya berpegang pada perintah dan larangan yang KUASA.

by Mas Javas · 0

Tiga kata sakti untuk meneguhkan aspirasi


Anda pernah dengar bahwa apa yang kita inginkan dapat kita tarik melalui pikiran? Yang pernah baca tentang kekuatan kehendak, hukum ketertarikan, mestakung (semesta mendukung), goal setting, juga kekuatan do’a yang tulus, pasti sudah tahu hal ini.

Masalahnya, mengapa yang sudah kita inginkan itu tak kunjung datang?

Kabarnya kita sering menggagalkan cita-cita kita sendiri melalui pengingkaran atas apa yang kita inginkan itu. ‘Inner voice’nya meragukan, bahkan mentertawakan cita-cita itu.

Misalnya ucapkan, “Saya kaya. Saya hidup berkelimpahan.” Mungkin ada suara kecil yang mengatakan, “Bohong. Kamu dusta. Kamu miskin.” Suara ini jelas menjegal kekayaan untuk datang kepada kita. Suara negatif itu muncul karena kita merasa tak selaras dengan apa yang kita ucapkan.

Mari gunakan 3 kata sakti untuk meneguhkan aspirasi. Kata itu adalah: ’saya sudah memutuskan’, ‘meskipun awalnya’, dan ’sedang dalam proses’.

Mari kita lihat contoh ekspresi keinginan berikut ini.

“Saya kaya. Saya berkelimpahan.”

Coba ucapkan kalimat tersebut. Apakah perasaan Anda nyaman? Mungkin tidak nyaman, karena Anda memang belum kaya.

Coba yang lain lagi.

“Saya ingin menjadi kaya, tetapi saya ini karyawan rendahan. Mana mungkin saya menjadi kaya?”

Coba ucapkan kalimat tersebut. Terasa bukan rasa pesimisnya? Tapi kali ini perasaan Anda membenarkan. Sayang sekali, walaupun serasa benar, kalimat macam inilah yang menarik segala kesusahan Anda.

Mari kita koreksi kalimat tersebut menjadi POSITIF dan BENAR.

“Saya SUDAH MEMUTUSKAN untuk menjadi kaya. Saat ini SAYA SEDANG DALAM PROSES menjadi kaya.”

Coba ucapkan kalimat itu. Kali ini perasaan Anda sangat nyaman, karena Anda bicara kebenaran. Bukankah Anda boleh memutuskan menjadi kaya? (ya!) Bukankah Anda boleh saja dalam proses menjadi kaya? (Ya, boleh sekali!)

Lalu mungkin masih ada suara negatif dari jiwa kerdil kita. “Tapi kan saya cuma karyawan rendahan?”

Patahkan dengan kalimat berikut.

“Saya SUDAH MEMUTUSKAN untuk menjadi kaya. Saya yakin bisa menjadi kaya, MESKIPUN AWALNYA saya karyawan rendahan. Saat ini ribuan orang seperti saya SUDAH MEMUTUSKAN hal yang sama. Saat ini puluhan ribu orang seperti saya juga SEDANG DALAM PROSES menjadi kaya. Saat ini, bahkan, jutaan orang seperti saya SUDAH menjadi kaya. KALAU MEREKA BISA, PASTI SAYA JUGA BISA!”

Tanyakan pada diri Anda, adakah di dunia ini seseorang yang sebelumnya adalah karyawan rendahan, namun kemudian berhasil menjadi milyuner? Anda tentu yakin, pasti ada! Berarti, apapun kondisi awal kita, pasti sudah ada orang dengan kondisi awal yang sama sudah berhasil menjadi milyuner. Pasti.

Saya sendiri seorang guru. Saya sangat yakin bisa menjadi milyuner. Contohnya bukan sekedar ada, bahkan jutaan guru di dunia ini telah mencapai kelimpahan milyuner, melalui berbagai cara.

Pikiran kita adalah pencipta kehidupan kita. Mulailah hari ini juga untuk memutuskan dan meneguhkan aspirasi yang akan Anda raih dalam hidup ini.

Beberapa buku yang sedang populer mengenai hal ini misalnya Mestakung (semesta mendukung) nya Yohannes Surya, The Secret, dan Law of Attraction.


Saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa bukan semesta yang mendukung, tapi Allah swt memberikan karunianya melalui keteraturan alam semesta. Salah satu keteraturan itu adalah bahwa gelombang pikiran kita akan menarik yang kita pikirkan itu ke arah kita. Dan keteraturan ini bersifat ilmiah serta pasti. Inilah hukum alam yang telah diciptakan Allah swt. Saya tekankan hal ini karena bahasan tentang Tuhan tidak dijelaskan dengan tegas dalam buku-buku hukum ketertarikan. Pembaca perlu jeli melihat bahwa Sang Maha Pencipta berada di balik semua keajaiban tersebut. :)


by Mas Javas · 0

All Rights Reserved Mlaten Kota | Blogger Template by Bloggermint