Nasruddin pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya.
Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, "Nashruddin kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga kali ke warung."
Nashruddin menjawab, "Maaf, Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus saja nanti supaya cepat beres."
Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan iapun menyuruh Nashruddin pergi memanggil dokter. Tak lama kemudian Nashruddin pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa orang lain. Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di ranjang, katanya, "Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah datang juga."
"Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. "Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?"
"Begini Tuan!" jawab Nashruddin, "Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obat-an bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan."
by Mas Javas · 0
Pesatnya perkembangan Facebook membuat banyak orang yang belum pernah menjamahnya mencoba menghampiri dan bahkan menjadi fanatik sampai tak berkutik untuk meninggalkan komputer walupun hanya sedetik. Dengan bermodal penasaran seorang perjaka ting-ting bernama Afgan (bukan yang artis itu) mencoba mengikuti trend sekarang, karena takut dibilang ketinggalan jaman oleh teman-temannya di sekolah.
Afgan adalah orang yang sangat gaul dan bahkan bisa dibilang raja mode di sekolahnya, dari model sepatu convers sobek-sobek sampai celana nyesek(ketat) ala anak punk berambut jabrik yang ditakuti oleh tukang balon dijalan.
Suatu hari Afgan nongkrong bareng teman-teman gaulnya setelah mereka lama tidak berjumpa, dia mendengar ada yang asing dengan topik pembicaraan teman-temannya belakangan ini. Saipul dan Jamil adalah dua teman Afgan yang sering nongkong bareng, kemudian mereka berbincang
Saipul : gila mil, kemaren ada cewe cakep banget dah !
Jamil : temen di facebook lo ?
Saipul : hahaha.. belum, tunggu aja, gw udah add kok
Jamil : sip dah kita tunggu aja biar bisa liat dia anak mana..
(saipul dan jamil pun tertawa bersama..)
Saipul : oya gan, gimana facebook lo?
(dalam hati Afgan : aduh, apaan ya facebook?) dan karena mengartikan dari bahasa inggris Facebook= Muka Buku, Afgan dengan sok taunya menjawab
Afgan : ooo… itu aduh gw mah males baca, apalagi beli buku kek gitu
Saipul dan Jamil mengerutkan keningnya dan berkata : ah becanda lo ! pura-pura gak tau web setenar itu. Kan lo anak tergaul di sekolah kita
Jantung Afganpun berdetak kencang karena malu salah menjawab, dan dengan sedikit trik dia mengalihkan pembicaraan dan bergegas izin pergi duluan.
Afgan : hahaha.. becanda gue. Afgan gitu lo ! gw kan emang selalu ikut trend terdepan. Oya sorry nyokap gw tadi telepon, suruh jemput ade gw di tempat les baletnya (padahal sih disuruh ngangkatin cucian dirumah)
Setelah selesai mengangkat cucian Afgan bergegas mencari warnet terdekat. Dengan kebingungan Afgan celingak-celinguk nyari orang yang mau dia tanya tentang Facebook. Karena malu, diapun sms engkongnya yang ternyata lebih gaul di internet dan hatam sekali segala hal tentang Facebook.
Sesuai instruksi kakeknya Afgan menuju sebuah web bernama tips-fb.com yang mempunyai artikel cara daftar Facebook. Dengan cepat Afgan menyelesaikan pembuatan Facebooknya karena tidak tahan membayangkan jika dia harus mendengar ejekan dari teman-temannya dan dibilang cupu (culun punya ?)
Kita menunju ke inti ! kenapa berjudul “Penyakit Pengguna Baru Facebook”
Karena masih belum melek Facebook Afgan pun mencari kira-kira bagaimana cara agar tidak terlihat masih baru di Facebook. Tanpa berfikir panjang dia add satu per satu orang yang tidak dikenal “dari pada ketaun ipul dan jamil mending gw add aja cw-cw cakep “. Bermodal tak kenal maka tak sayang diapun meluncurkan kalimat-kalimat perkenalan yang sedikit berbau gombal kepada calon teman barunya.
Penyakit yang diderita Afgan di Facebook banyak dialami pengguna baru Facebook lainnya seperti:
Add user di Facebook walaupun tak dikenal, yang penting :
* cantik atau ganteng :o
* punya hobi yang sama :p
* keliatan eksis di facebook dengan teman banyak :siul:
* cuma sekedar iseng :ngacir:
Selalu mengapprove, karena tidak enak menolak :
* aplikasi, walupun hanya mengklik approve dan allow aja tanpa dimaenin :shutup:
* kuis, walaupun banyak yang gak penting :hammer:
* undangan event, walaupun sebenernya gak bakal dateng :amazed:
* group, walupun gak tahu itu group apaan :berbusa:
* suggest friend & friend request, walupun tidak dikenal dan jangan-jangan maho :kissing:
Bagaimana kelanjutan kisah Afgan sang pengguna baru Facebook?
by Mas Javas · 0
Seorang lelaki yang pendek dan buruk rupanya suatu hari duduk-duduk bersama istrinya yang sangat cantik Jelita. Si lelaki tak berkedip memandang wajah istrinya yang cantik jelita.
Agak tersipu-sipu, sang istri pun berkata, “Kau ini kenapa sih, kok dari tadi memandangku saja?”
“Kulihat wajahmu,” jawab si suami,
“semakin hari kok semakin cantik saja. Maka setiap kali aku melihatmu, semakin bertambah syukurku.”
“Ya, “kata si istri,
” dan kita berdua nanti akan masuk surga.”
“Lho, darimana kautahu?”
“Bukankah hamba yang bersyukur dan hamba yang bersabar akan masuk surga. Kau bersyukur karena mendapat anugerah istri cantik seperti aku. Sedangkan aku bersabar mendapat cobaan berupa suami jelek seperti kau”.
by Mas Javas · 0
Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barang siapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas: Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.
Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas. Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.
Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya, "Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?"
"Telur." jawab peserta pertama.
"Apa alasannya?" tanya Baginda. "Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan. "Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda.
Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. Ia tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian peserta kedua maju. Ia berkata, "Paduka yang mulia, sebenamya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan."
"Bagaimana bisa bersamaan?" tanya Baginda. "Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami." kata peserta kedua dengan mantap.
"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?" sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bingung. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara. Lalu giliran peserta ketiga. Ia berkata, "Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur."
"Sebutkan alasanmu." kata Baginda. "Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina." kata peserta ketiga meyakinkan. "Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada." kata Baginda memancing.
"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri." peserta ketiga berusaha menjelaskan.
"Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?" Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. Ia pun dimasukkan ke penjara. Kini tiba giliran Abu Nawas. Ia berkata, "Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam."
"Coba terangkan secara logis." kata Baginda ingin tahu
"Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam." kata Abu Nawas singkat. Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak bisa menyanggah alasan Abu Nawas dan terpaksa harus memberi uang dalam jumlah besar sebagai hadiah untuk Abu Nawas.
by Mas Javas · 0
Seorang santri baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid jiddan. Lumayan pintar. Dia berencana mengadu nasib di Jakarta.
Saat tiba di Stasiun Pasar Senen dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan bisa menjadi tontonan yang menarik. Baiklah! dia ikut menonton saja.
Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban. Apalagi postur tubuhnya kecil. Jangankan mendekat, melihat korban saja sulit.
Tapi dia tidak kurang akal. Dia langsung berteriak. "Saya keluarganya..!" katanya sambil mengacungkan jari.
Orang-orang memandanginya. Mereka langsung memberi kesempatan santri tadi menghampiri korban kecelakaan.
Santri langsung mendekati korb
by Mas Javas · 0
Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.
”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.
“Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.
”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?”
”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”
”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.
”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan.
Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.
”Anda siapa?” tanya pemuda.
”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”
”Ohh… lalu ini istana siapa?”
”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.”
”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?”
”Betul!”
”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?”
”Betul sekali.”
Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.
“Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.
”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.”
”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?”
”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”
”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak.
by Mas Javas · 0
Anak kecil umur 3 tahunan disuruh doa kok masih gelepotan, itu sich wajar aja..Namun yang kebangeten itu klo dah bangkotan bin mambu lemah ngikut-ngikut latah kayak anak-anak kecil waktu disuruh doa..Ha trus hidupnya yang 60 tahun dah jalan itu buat ngapain..apa buat molimo aja tuh hidup (Mendem, Madon, Main, Mahnyongan,trus akhirnya Modiar sisan)?? atau umur segitu dihabisin buat ngejar mbok rondho kinclong tetangga sebelah? wis jan aya-aya wae...
Gimana gak malu-maluin tuh orang, hawong disuruh doa makan ha kok malah bacanya pakai doa mau jima’..wis jan klo ini memang bener-bener uedan..Masak udah enampuluh tahun bercokol di dunia ini setiap mau makan pakai doanya pakai doa jima’..Ha trus waktu dia mau jima’ sama istrinya pakai doa apa?? Apa pakai doa mau masuk WC..Ha embuh..
Simbah gondhes= Le thole, inyong kie keno po yo lee..anak putu inyong kok lemu-lemu ginuk-ginuk senengane mangan drembo loh, opa-opo kamplo nyang njero weteng..
Si thole= Ha yo alhamdulillah toh mbah, banyak orang tua punya anak dan cucu kurus-kurus pingin kayak simbah yang punya anak putu ginuk-ginuk cemewel pingine njiwiti gitu loh..
Simbah ghondhes= pinginnya sih kayak gitu le...cuman inyong wis ora kuat masalah biayane iki loh..ha wong beras naik, minyak goreng naik, minyak tanah susah didapat, susu anak susah didapat..inyong sing repot lee...
Si thole= Sing sabar wae mbah..ngomong-ngomong, inyong mau takon mbah?? simbah dulu klo mau jima' ama istri pakai doanya apa??
Simbah ghondhes= hayah, ngetes nih..hayo gampang klo itu lee..doa itu doa yang paling kuhapal, dari masa muda inyong dah latihan terus kok..sampai-sampai inyong latih tuh doa tiap hari 5 kali..
Si thole= doanya apa toh mbah??
Simbah gondhes= Allahumma bariklana fiima razaqtana waqina 'adzabannar...
Si thole= woalah mbah-mbah..ha itu kan doa makan, mangkanya anak putu rika drembo pinter makan, semua makanan masuk..itu kuncinya..
Melihat kisah itu kok inyong jadi inget kisah salah satu shahabat nabi, Abu Musa Al Asy’ari rhu ketika beliau bersama pasukannya berangkat ke medan jihad, dan pada waktu itu beristirahat disuatu tempat…Ketika setelah sholat dhuhur, seluruh pasukannya membuat majlis ilmu secara melingkar, sampai dengan waktu ashar. Setelah adzan ashar selesai dikumandangkan, maka seluruh pasukannya pada berdiri kemudian berangkat menuju tempat wudhu (padahal tidak semua pasukannya yang menuju tempat wudhu tersebut batal wudhunya/ telah berhadas)..Melihat hal itu, Abu Musa Al Asy’ari rhu memerintahkan kepada muadzin untuk mengumumkan supaya yang berangkat ke tempat wudhu hanyalah orang-orang yang telah berhadas/ telah batal wudhunya..Kemudian beliau rhu berkata dengan keras “Kini telah nampak kebodohan umat hari ini, saking bodohnya bahkan seorang anak akan tega untuk menggorok/menebas leher ibunya”
Bener-bener mantabss kisah diatas, saking fentingnya belajar ilmu sampai-sampai majelis ilmu diadakan di medan perang..Mangkanya inyong sendiri jadi merasa malu melihat kisah diatas, umur dah seperempat abad lebih dikit ha kok kalah ama anak-anak umur belasan tahun yang dah apal quran, yang fasih cas cis cus bahasa arob fushoh..wis jan, duh Gusti Alloh, Allahumma faqihna fiddin..
Ha trus gimana kalo dah begitu, dah bangkotan tapi kok kalah sama anak-anak…Ha yo belajar terus gitu, Tholabul ‘ilmi faridhotun a’la kulli muslim wal muslimah. Gak usah pandang usia, mau mambu lemah, mau otot kawat balung wesi sama aja kewajibannya yaitu nuntut ilmu sing gethu..
(( ))
by Mas Javas · 0